AI Kian Cerdas, Ini 3 Keterampilan Manusia yang Tidak Bisa Digantikan Menurut Para Ahli

Ilustrasi Artificial Intelligence
Sumber :
  • Pinterest

VIVAJabar – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI), kekhawatiran akan hilangnya lapangan pekerjaan semakin meningkat. 

img_title Slot Bek Tengah Timnas Indonesia Tinggal 1, Kevin Diks Siap Bersaing

Namun, menurut para pakar teknologi, ada tiga keterampilan utama yang dinilai akan sulit digantikan oleh AI dan justru menjadi kunci untuk bertahan di masa depan.

Berdasarkan analisis dari sejumlah ahli, AI memiliki keterbatasan yang tidak dapat menandingi kemampuan unik manusia

img_title Mauro Zijlstra Resmi Jadi WNI, Ini Agenda Selanjutnya

Keterbatasan ini menjadi peluang bagi individu untuk mengembangkan diri di bidang-bidang yang membutuhkan sentuhan manusiawi.

Berikut adalah tiga keterampilan yang sulit digantikan oleh AI menurut para pakar:

img_title Mencengangkan! Ternyata Ini Skill Sepakbola Miliano Jonathans yang Ditakuti Banyak Lawan

1. Rasa Ingin Tahu Manusia

Anima Anandkumar, seorang profesor di California Institute of Technology dan peneliti AI terkemuka, menekankan pentingnya rasa ingin tahu. 

Menurutnya, kemampuan untuk mengajukan pertanyaan, mengejar masalah yang kompleks, dan memiliki gairah untuk belajar adalah keunggulan manusia yang tidak bisa ditiru AI. 

AI seharusnya digunakan sebagai alat untuk memicu rasa ingin tahu, bukan sebagai alasan untuk menghentikannya.

2. Empati, Visi Jangka Panjang, dan Tujuan Strategis

CEO Zoho Corporation, Sridhar Vembu, berpendapat bahwa AI tidak memiliki empati, penilaian, atau visi jangka panjang seperti manusia. 

AI sangat cerdas dalam hal teknis, tetapi tidak memahami konteks sosial, emosional, atau tujuan strategis dari suatu pekerjaan. 

Oleh karena itu, peran manusia sebagai pengambil keputusan dan penentu arah strategis tetap tak tergantikan.

3. Pemikiran Interdisipliner

Andrew Anagnost, CEO Autodesk, menyoroti pentingnya kemampuan berpikir lintas disiplin. 

Di era di mana AI bisa menulis kode dan melakukan tugas-tugas teknis, manusia harus menguasai "pemikiran tingkat sistem" kemampuan untuk menghubungkan berbagai bidang ilmu pengetahuan dan mengelola hasil kerja sistem AI. 

Manusia akan berperan sebagai "kurator kreatif" yang mengarahkan dan mengelola teknologi, bukan sekadar pelaksana teknis.

Dengan demikian, fokus pengembangan diri di masa depan seharusnya tidak hanya pada penguasaan teknologi, tetapi juga pada penguatan keterampilan manusia yang tidak bisa ditiru oleh AI.