Efeknya Gak Main-Main! Kamu Wajib Tahu Kandungan Kafein di Es Kopi Gula Aren!
VIVAJabar – Es kopi gula aren memang menggoda: rasanya manis, aromanya khas, dan efek melek yang bikin ketagihan. Tapi, tahukah kamu bahwa minuman kekinian ini mengandung kafein dalam jumlah yang tak bisa dianggap sepele?.
Buat kamu yang rutin mengonsumsi es kopi gula aren, penting banget mengetahui seberapa besar kandungan kafein yang masuk ke tubuh dan dampaknya jika dikonsumsi berlebihan.
1. Kandungan Kafein
Diprediksi bisa capai 80–120 mg per gelas. Kandungan kafein dalam segelas es kopi gula aren tergantung pada jenis kopi yang digunakan biasanya espresso atau kopi robusta.
Rata-rata, satu shot espresso (30 ml) mengandung sekitar 63 mg kafein, dan dalam satu gelas es kopi gula aren bisa terdapat 1–2 shot.
Artinya, kamu bisa mengonsumsi hingga 120 mg kafein hanya dari satu gelas.
2. Kafein Tingkatkan Fokus
Tapi bisa picu efek samping karena kafein adalah stimulan alami yang membantu meningkatkan fokus dan kewaspadaan.
Tapi jika dikonsumsi terlalu banyak, bisa menyebabkan efek negatif seperti jantung berdebar, gangguan tidur, gelisah atau cemas, gangguan pencernaan, sakit kepala.
Bagi orang yang sensitif terhadap kafein, secangkir kopi saja bisa menimbulkan efek tersebut.
3. Efek Kafein Bisa Bertahan hingga 6–8 Jam
Meski kamu minumnya pagi atau siang, efek kafein bisa bertahan hingga malam hari, terutama jika kamu meminum lebih dari satu gelas dalam sehari.
Itulah mengapa banyak orang mengalami insomnia atau tidur yang tidak nyenyak setelah minum kopi sore hari.
Es Kopi
4. Tidak Cocok untuk Semua Orang
Wanita hamil, penderita hipertensi, orang dengan gangguan lambung, atau yang mengalami gangguan kecemasan sebaiknya membatasi atau menghindari konsumsi kafein.
Bahkan remaja pun disarankan tidak mengonsumsi lebih dari 100 mg kafein per hari.
5. Es Kopi Gula Aren
Sama dengan Kafein + Gula = Kombinasi Berisiko. Selain mengandung kafein, es kopi gula aren juga tinggi gula alami (gula aren). Kombinasi ini bisa membuat tubuh cepat berenergi, tapi juga mudah "crash" atau kelelahan setelah efeknya hilang.
Jika dikonsumsi terlalu sering, bisa memicu ketergantungan dan gangguan metabolik, seperti peningkatan kadar gula darah dan tekanan darah.