Imah Babaturan, Warung Kopi Favorit di Bandung dengan Cita Rasa Masakan Rumahan
- Instagram @kopisurgawi
VIVAJabar – Bandung dikenal sebagai surganya kuliner unik dan penuh cerita.
Salah satu yang kini jadi tujuan favorit wisatawan adalah Warung Kopi Imah Babaturan, tempat makan dengan konsep sederhana namun menghadirkan rasa otentik masakan rumah yang sarat makna.
Berlokasi di dua titik strategis, yakni Jalan Kebon Bibit No. 3 dan Jalan Tamansari No. 51A, Warung Kopi Imah Babaturan sudah berdiri lebih dari satu dekade.
Meski tampak seperti warung biasa, tempat ini selalu ramai dikunjungi, terutama saat akhir pekan.
Suasana yang hangat serta menu yang bervariasi membuatnya seolah menjadi rumah kedua bagi para pengunjung.
Pemilik warung, Muhammad Nurul Huda, menjelaskan bahwa setiap menu yang disajikan punya latar belakang tersendiri dan erat kaitannya dengan masakan ibunya.
“Setiap menu yang ada di Imah Babaturan itu selalu ada alasannya, enggak ada yang dibuat dengan ngarang atau mengada-ada. Semua pasti sudah pernah dibuat oleh ibu saya,” ujar Huda.
Hidangan andalan di antaranya tongseng kambing, tongseng sapi, hingga tongseng ayam kampung.
Semua resep tersebut terinspirasi dari masakan sang ibu yang dulu pernah dijual.
Tak hanya itu, menu lain yang tak kalah populer adalah cumi cabe hijau. Keistimewaannya terletak pada bahan yang digunakan, yakni cumi segar laut, bukan cumi asin seperti kebanyakan tempat makan di Bandung.
“Ini adalah salah satu menu otentik signature-nya Imah Babaturan. Karena jarang ada yang jual cumi segar dijadikan cumi cabai hijau. Ibu saya selalu pakai cumi ini, meskipun harganya sekarang di pasar mahal banget, naik turun seperti saham,” tutur Huda.
Selain itu, ada juga menu sederhana namun penuh makna, seperti bala-bala sambal kacang serta pisang goreng dipotong dadu. Menu ini tercipta dari kebiasaan ibunya yang selalu memotong kecil-kecil pisang agar bisa dibagi rata ke semua anak.
Nama Imah Babaturan sendiri dalam bahasa Sunda berarti “rumah teman”.
Pemilihan nama ini berangkat dari kenangan masa muda Huda, di mana rumahnya kerap dijadikan tempat nongkrong oleh teman-temannya.