Wajib Tahu, Seblak Bandung Kini Saingi Mie Instan di Pasar Dunia
- Instagram @sumur_dan_seblak_kombi22
VIVAJabar – Dari dapur sederhana hingga menembus pasar internasional, seblak kini menjelma sebagai salah satu kuliner khas Indonesia yang semakin mendunia.
Hidangan pedas asal Bandung ini tak hanya diminati masyarakat lokal, tapi juga berhasil mencuri perhatian penikmat kuliner di luar negeri.
Seblak dikenal dengan perpaduan cita rasa gurih, pedas, serta teksturnya yang khas.
Hidangan ini berbahan utama kerupuk yang direbus, lalu dimasak bersama bumbu kencur, cabai, bawang putih, dan aneka rempah.
Dari yang awalnya hanya tersedia dalam bentuk sederhana, kini seblak hadir dalam variasi modern, mulai seblak kuah, seblak kering, hingga dengan tambahan topping seperti seafood hingga mozarella.
Seblak Bandung
- Instagram @seblaksamimirah
Konon, makanan ini pertama kali muncul di Soreang, Bandung.
Nama “seblak” sendiri diyakini berasal dari bahasa Sunda yang berarti “mengagetkan,” merujuk pada sensasi pedas yang mendominasi.
Saat ini, seblak bisa ditemui di berbagai tempat, mulai dari pedagang kaki lima, warung sederhana, hingga kafe dan restoran modern.
Perkembangan pesat seblak tak lepas dari peran media sosial.
Video kreasi masakan hingga tantangan makan seblak super pedas yang viral di TikTok, Instagram, hingga YouTube membuat popularitasnya terus meningkat.
Data Google Trends pun mencatat lonjakan pencarian kata “seblak” sejak tahun 2020, terutama saat pandemi COVID-19, ketika masyarakat banyak mencoba membuat seblak sendiri di rumah.
Kondisi ini bahkan mendorong munculnya bisnis rumahan, termasuk produk seblak instan maupun beku.
Salah satu kisah sukses datang dari Tia Lestari (28), pemilik usaha “Seblak Mamake” di Antapani, Bandung.
Awalnya ia hanya menjual kepada tetangga, namun kini usahanya berkembang pesat hingga memiliki gerai sendiri dengan omzet jutaan rupiah per bulan.
Bahkan, produk seblak instan sudah mulai menembus pasar ekspor ke Malaysia, Singapura, hingga Taiwan, dan tersedia di berbagai e-commerce serta retail modern.
Meski peluangnya besar, seblak juga menghadapi tantangan.
Persaingan ketat membuat para pelaku usaha dituntut menjaga cita rasa dan kualitas kebersihan produk.
Selain itu, rasa pedas yang kuat juga memiliki risiko bagi kesehatan. Menurut dr. Rina Marlina, konsumsi seblak sebaiknya tetap dibatasi.