Hati-hati! Pahami Gas Air Mata, Bahaya dan Dampaknya bagi Kesehatan
VIVAJabar - Demontrasi terjadi di mana-mana, para demonstran berusaha masuk ke ruang DPR, namun aparat keamanan menjaga ketat.
Berbagai daerah terjadi demontrasi, bahkan aparat keamanan sampai harus mengeluarkan gas air mata.
Tahukah kalian, apa itu gas air mata? Serta bagaimana dampak dan bahayanya bagi kesehatan? Berikut penjelasan dari Alodokter:
Gas air mata dibuat dari beragam senyawa kimia, seperti chloroacetophenone (CN) dan chlorobenzylidenemalononitrile (CS). Selain itu, chloropicrin (PS), bromobenzylcyanide (CA), dibenzoxapine (CR), juga bisa digunakan sebagai agen iritatif yang dapat digunakan untuk mengendalikan massa.
Gas air mata dirancang untuk menimbulkan iritasi sementara, khususnya pada bagian mata, mulut, kulit, tenggorokan, dan paru-paru. Dengan begitu, diharapkan kerusuhan bisa mereda.
Saat terpapar gas air mata, tingkat keparahan gejala yang bisa timbul tergantung pada beberapa faktor, seperti:
-Jumlah gas air mata yang digunakan
-Jarak tubuh dengan lokasi pelepasan gas air mata
-Lokasi di mana gas air mata digunakan, apakah di dalam atau di luar ruangan
-Lamanya waktu terpapar gas air mata
-Dampak Paparan Gas Air Mata bagi Kesehatan
Secara umum, sesaat setelah terpapar gas air mata, seseorang bisa mengalami beberapa atau bahkan semua gejala di bawah ini:
-Mata merah, berair, terasa terbakar, dan penglihatan kabur
-Muncul ruam atau kulit yang terasa terbakar dan melepuh
-Hidung meler, bengkak, dan terasa terbakar
-Mulut iritasi, terasa terbakar, diikuti dengan keluarnya air liur secara berlebihan atau sulit menelan
-Batuk, sesak napas, napas pendek, mengi, dan muncul rasa tercekik
Jika dibiarkan dan tidak segera ditangani, gejala-gejala tersebut bisa semakin parah bahkan berisiko menyebabkan kondisi yang fatal.
Paparan gas air mata dalam waktu yang lama dan jumlah yang banyak, terlebih bila terjadi di tempat tertutup, berisiko menyebabkan kerusakan mata yang berat, seperti katarak, glaukoma, dan kebutaan, serta kematian akibat gagal napas atau serangan jantung.
Risiko gagal napas akibat paparan zat kimia ini lebih tinggi pada orang-orang yang menderita asma atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).