Mulai Diwajibkan Bulan Mei, Ini Kriteria Remaja yang Dimasukan ke Barak Militer Menurut Dedi Mulyadi
VIVAJabar – Dedi Mulyadi kini telah memberlakukan wajib militer bagi siswa yang bermasalah pada 2 Mei lalu. Diketahui, pelaksanaan barak militer untuk siswa dimulai di Purwakarta pada Kamis, 1 Mei 2025 dengan 39 peserta.
Walau bayak pertentangan dari beberapa pihak, akan tetapi Dedi menyakini bahwa salah satu cara mendidik anak dengan mendisiplinkan di militer merupakan salah satu upaya pendidikan.
Perlu diketahui pada program ini tidak semua siswa untuk bisa masuk ke barak militer, terdapat kriteria tertentu sehingga bisa dimasukan ke dalam kategori siswa bermasalah.
Dedi Mulyadi
- -
Berikut kriteria yang wajib melakukan sesi pendidikan di barak militer menurut Dedi Mulyadi.
1. Pecandu Alkohol, Tawuran, dan Bermain Game
Kriteria pertama menurut Dedi Mulyadi ialah anak-anak atau remaja yang sering kali candu dengan alkohol, tawuran, dan bermain game.
"Tukang tawuran, tukang mabuk, tukang main Mobile Legends. Yang kalau malam kemudian bangunnya mau sore," ujar Dedi.
2. Pembangkang Orang Tua dan Suka Mengancam
Dedi mengatakan bahwa anak-anak yang suka membantah dan berani mengancam orang tuanya harus dimasukan ke dalam barak militer karena jika dibiarkan akan menjadi pribadi yang buruk di masyarakat.
"Program ini adalah salah satu terobosan, mengingat begitu luasnya dan begitu buruknya perilaku kenakalan yang terjadi pada saat ini." ujar Dedi.
"Begitu beratnya orang tua menghadapi mereka, karena seringkali ketika orang tua menegur, bukannya diikuti malah ada ancaman, penganiayaan, bahkan pembunuhan,” tambahnya.
3. Perilaku Kriminal seperti Penganiayaan dan Pembunuhan
Kriteria yang paling fatal ada ada diri anak remaja ialah yang berani melakukan tindak kriminal seperti penganiayaan dan pembunuhan.
"Kriteria itu (yang dibawa ke Barak) adalah anak-anak yang sudah mengarah pada tindakan-tindakan kriminal dan orangtuanya tidak punya kesanggupan untuk mendidik," ujar Dedi.
4. Sering Bolos dan Buat Onar
Bolos sekolah dan membuat kegaduhan di luar sekolah menjadi kriteria yang dimasukan Dedi Mulyadi ke dalam siswa bermasalah.
Perilaku ini tentu membuat tidak nyaman siswa yang serius belajar serta ketidaknyamanan lingkungannya karena telah memuat gaduh. "Bolos terus. Dari rumah berangkat ke sekolah. Ke sekolah enggak nyampe," ujar Dedi.