Budidaya Nila dengan Teknologi Efisiensi Energi Selamatkan Anak Stunting Beroperasi di Garut

Ilustrasi Budidaya Ikan
Sumber :
  • Pinterest

 

img_title Liburan Seru ke Garut Jawa Barat, Antapura De Djati Penuh Spot Foto Menawan

VIVAJabar - Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama Pemerintah Kabupaten Garut resmikan program budidaya ikan nila berbasis teknologi di Desa Karyasari, Kecamatan Banyuresmi, Garut. 

Program ini diinisiasi sebagai upaya pemenuhan gizi masyarakat, terutama dalam penanggulangan stunting, melalui akses protein yang terjangkau dan berkelanjutan di wilayah Garut.

img_title Kampung Naga Bukan Sekadar Wisata, Cek Alasan Tempat Ini Wajib Dikunjungi Saat 17 Agustus

Perwakilan ITB, Irwan Meliano, menambahkan bahwa keterlibatan berbagai pemangku kepentingan menjadi kekuatan utama program. 

“Program ini menunjukkan sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, sektor usaha, dan masyarakat. Kami berharap ini menjadi model yang bisa diterapkan di banyak daerah lain,” ujar Irwan dalam keterangannya, Jumat 16 Mei 2025.

img_title Daftar Top 25 Kampus Terbaik di Bandung 2024 Rilis

Program budidaya ini tidak hanya mengembangkan ikan nila, tetapi juga tanaman hortikultura melalui sistem hidroponik. Seluruh proses dirancang dengan prinsip efisiensi energi dan keberlanjutan lingkungan. 

Selain Garut, model serupa juga pernah dijajaki ITB di beberapa wilayah lain di Jawa Barat, termasuk di Cianjur.

Bupati Garut Abdusy Syakur Amin menilai program inovasi tersebut dapat direplikasi di berbagai wilayah lain, terutama yang memiliki keterbatasan sumber daya air. 

Teknologi recirculate aquaculture system yang digunakan dalam budidaya ini memungkinkan efisiensi air dan energi, sekaligus menghasilkan produk pangan yang bernilai ekonomi tinggi.

“Harapannya masyarakat memiliki akses lebih mudah terhadap protein yang baik dan terjangkau. Selain itu, ada alih teknologi yang berpotensi besar dalam aspek ekonomi. Sistem ini bisa menjadi prototipe untuk daerah-daerah lain yang menghadapi tantangan serupa,” ujar Syakur.

Program ini menghadirkan komoditas budidaya nila dan aquaponik di lahan seluas 1.200 meter persegi menggunakan sistem 12 kolam yang ditempatkan dalam greenhouse seluas 370 meter persegi.

Ilustrasi Teknologi Budidaya Ikan

Photo :
  • Pinterest

Pengembangan ekonomi produktif berbasis budidaya ini diproyeksikan menghasilkan 1- 4 ton ikan nila dan 6.200 pot sayuran aquaponik organik yang siap dipanen setiap 2 minggu sekali.

Ketua Pengurus Rumah Amal Salman, Mipi Ananta Kusuma menambahkan, program ini ditargetkan memperkuat akses makanan bergizi untuk masyarakat miskin dan stunting dengan konsep sustainable development goals (SDGs) yang disepakati menjadi agenda 2030 Persatuan Bangsa Bangsa (PBB).

“Program rintisan ini bila berjalan sesuai rencana, diharapkan dapat menjadi model dan laboratorium pendistribusian dan pemberdayaan dana zakat, infak, sedekah, CSR, dan dana publik maupun privat lainnya,” katanya.

Halaman Selanjutnya
img_title