Langkah Tidak Lazim Bahlil: Terobosan atau Risiko Baru bagi Lifting Minyak RI?
VIVA Jabar – Pemerintah Indonesia menghadapi tantangan serius dalam meningkatkan produksi minyak nasional yang masih jauh dari target kebutuhan dalam negeri. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat, pada 2024, lifting minyak hanya mencapai sekitar 580 ribu barel per hari, padahal kebutuhan nasional mencapai 1 juta barel per hari.
Untuk mengatasi stagnasi ini, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengambil langkah-langkah tidak lazim dengan melakukan reformasi regulasi dan evaluasi ketat terhadap kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) yang lamban.
Langkah terobosan ini mencakup pencabutan izin pengelolaan blok migas bagi KKKS yang tidak menunjukkan kemajuan signifikan dalam lima tahun terakhir. Kebijakan tersebut berlaku tanpa pandang bulu, termasuk untuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Menteri Bahlil menegaskan, “Kami tidak lagi mempermasalahkan sistem bagi hasil, baik gross split maupun cost recovery. Fokus utama kami adalah percepatan investasi dan produksi demi memenuhi kebutuhan nasional.”
Direktur Gagas Nusantara, Romadhon Jasn, menyambut positif kebijakan tersebut. “Keberanian Menteri Bahlil mengambil langkah yang tidak lazim ini sangat diperlukan untuk mengatasi kebuntuan produksi minyak nasional yang sudah berlangsung lama,” kayanya kepada awak media, Jumat (23/5/2025).
Romadhon menilai, evaluasi ketat dan potensi pencabutan izin KKKS yang lamban adalah sinyal kuat agar pengelolaan migas lebih efisien dan produktif.
Namun, Romadhon juga mengingatkan pentingnya tata kelola yang transparan dan akuntabel dalam pelaksanaan kebijakan ini.
“Percepatan produksi harus diiringi dengan mekanisme pengawasan yang ketat agar tidak menimbulkan konflik kepentingan atau praktik korupsi,” katanya.
Menurutnya, keterlibatan masyarakat sipil dan aktivis dalam pengawasan akan memperkuat akuntabilitas dan mendorong good governance di sektor migas.
Selain aspek tata kelola, Romadhon menekankan bahwa peningkatan produksi minyak harus memperhatikan keberlanjutan lingkungan.
“Kita tidak boleh hanya mengejar kuantitas. Eksplorasi dan produksi migas harus dilakukan dengan memperhatikan dampak sosial dan lingkungan agar tidak menimbulkan kerusakan jangka panjang,” ujarnya.
Ia mengingatkan pengalaman sektor energi lain yang sempat mendapat kritik karena kurang memperhatikan aspek keberlanjutan.
Data terbaru memperlihatkan bahwa konsumsi minyak Indonesia pada 2024 mencapai sekitar 1 juta barel per hari, sementara produksi masih stagnan di kisaran 580 ribu barel per hari.