Bandung Punya Angkot Pintar 2026, Sopir Diklaim Tak Akan Dipecat

Wali kota bandung
Sumber :
  • Pinterest

VIVAJabar – Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menetapkan bahwa program angkutan kota pintar (angkot pintar) akan mulai dilaksanakan pada tahun 2026. Inisiatif ini merupakan bagian dari pengembangan transportasi umum menuju sistem yang lebih modern, efisien, dan terintegrasi, sejalan dengan visi “Bandung Utama” sebagai kota cerdas.

img_title Bandung Ramaikan Festival Kuliner 2025, Jangan Lewatkan

Angkot pintar dirancang seperti layanan transportasi berbasis aplikasi. Masyarakat bisa melakukan pemesanan melalui aplikasi, menikmati kendaraan yang dilengkapi AC dan WiFi, melakukan pembayaran tanpa uang tunai, atau berlangganan bulanan dengan biaya sekitar Rp100. 000.

Berikut ini beberapa fitur utama dari angkot pintar:

img_title HUT RI ke-80, KAI Bandung Siapkan 103 Ribu Kursi Tambahan

Armada baru yang modern dan ramah pengguna.

1. 500 halte khusus dengan jarak yang teratur (500–600 meter).

img_title Tutorial Beli Tiket Persib Bandung vs Semen Padang di PERSIB Apps

Jadwal dan rute yang tetap, bisa dilacak melalui aplikasi.

Terintegrasi dengan sistem Bus Rapid Transit (BRT) Bandung Raya.

Sistem langganan dan pembayaran tanpa uang tunai.

Penghapusan trayek lama yang dianggap menghalangi inovasi.

Mengenai nasib sopir angkot, Farhan memberikan jaminan penuh. Ia memastikan bahwa mereka tidak akan kehilangan pekerjaan, tetapi akan dialihkan menjadi karyawan dengan sistem gaji tetap, bukan berdasarkan setor harian seperti saat ini.

“Untuk sopir, tidak ada masalah. Mereka adalah orang pertama yang saya ajak bicara jika ada perubahan. Itu sudah pasti,” kata Farhan, yang di kutip dari situs Pemkot Bandung.

Ia juga menambahkan bahwa sopir angkot perlu beradaptasi agar dapat menyesuaikan diri dengan sistem yang baru.

“Yang jelas, sopir angkot tidak perlu khawatir karena mereka tidak akan kehilangan pekerjaan. Saya tidak akan menghapus pekerjaan mereka hanya karena kita mengubah sistem atau trayek,” jelasnya.

“Hal terpenting, jika kita ingin bertransformasi, bukan hanya pemerintah yang harus berubah, tetapi sopir angkot juga perlu bersedia beradaptasi,” pungkasnya.