Ancaman Radikalisme Mengintai Remaja, BNPT Turun Tangan di Bali
- Istimewa
VIVAJabar - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menegaskan pentingnya pencegahan paham kekerasan sejak usia dini.
Melalui gelaran budaya bertajuk Suara Damai Nusantara (SUDARA) yang digelar di Aula Universitas Warmadewa, Denpasar, Selasa (29/7), BNPT bersama Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Bali mengajak pelajar SMP dan SMA untuk menjadi garda terdepan melawan radikalisme.
Kepala BNPT, Komjen Pol. Eddy Hartono, S.I.K., M.H., menyebut acara ini sebagai langkah strategis dalam membangun ketahanan ideologis generasi muda.
Menurutnya, pendekatan budaya seperti lomba seni dan kreativitas menjadi media yang efektif dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan semangat toleransi.
“Upaya mitigasi dan literasi bahaya paham radikal harus dimulai sejak dini. Kegiatan seperti SUDARA menjadi wadah untuk menyalurkan kreativitas sekaligus membangun kesadaran akan pentingnya perdamaian dan kebhinekaan,” ujar Komjen Eddy, Kamis 31 Juli 2025.
Lebih lanjut, Eddy menekankan pentingnya keberlanjutan kegiatan serupa, agar nilai-nilai lokal yang kaya di Bali terus menjadi benteng kuat menghadapi ancaman ideologi kekerasan.
“Kearifan lokal Bali adalah kekuatan bangsa. Melalui budaya, kita bisa menangkal penyebaran paham radikal, bukan hanya di Bali, tapi juga secara nasional,” tegasnya.
Sementara itu, Rektor Universitas Warmadewa, Prof. Dr. Ir. I Gde Suranaya Pandit, MP, menyampaikan apresiasi terhadap peran BNPT yang telah memberi ruang edukatif bagi siswa dan mahasiswa.
Ia menegaskan bahwa ancaman radikalisme tak hanya menyerang secara fisik, tetapi juga menggerus nilai kebangsaan.
“Lewat kegiatan seperti ini, generasi muda dibekali semangat Pancasila, toleransi, dan cinta tanah air. Ini penting untuk membentuk generasi emas Indonesia yang kuat secara ideologi dan karakter,” katanya.
Acara SUDARA ini diikuti oleh ratusan pelajar dan diisi dengan berbagai penampilan seni budaya yang mengangkat tema perdamaian dan kebhinekaan.
BNPT berharap kegiatan ini bisa menjadi inspirasi nasional dalam pendekatan pencegahan radikalisme berbasis budaya.*