Di Tengah Gempuran Digital, Guru Besar UMB Ingatkan Ancaman Runtuhnya Identitas Nasional
VIVAJabar – Universitas Mercu Buana (UMB) resmi mengukuhkan lima guru besar baru dalam upacara akademik di Kampus Meruya, Jakarta Barat, Selasa (19/8/2025).
Salah satunya adalah Prof. Rizki Briandana, M.Comm., Ph.D., pakar Ilmu Media dan Komunikasi, yang menekankan perlunya membayangkan ulang identitas bangsa di tengah derasnya arus digitalisasi.
Dalam orasi ilmiahnya berjudul “Reimagining the Nation: Etnografi Komunikasi dan Networked Nationalism untuk Keberlanjutan Ruang Batas Indonesia”, Prof. Rizki menyoroti rapuhnya komunikasi identitas nasional, khususnya di wilayah perbatasan.
“Reimagining the Nation: Etnografi Komunikasi dan Networked Nationalism untuk Keberlanjutan Ruang Batas Indonesia”. Ia menyoroti pentingnya membayangkan ulang identitas kebangsaan di tengah disrupsi digital, sekaligus menegaskan komunikasi sebagai infrastruktur keberlanjutan sosial,” ujar Rizki dalamketerangannya, Kamis 21 Agustus 2025.
“Bangsa ini tidak hanya hidup dalam dokumen resmi atau peta, melainkan dalam percakapan, cerita, dan ruang komunikasi yang kita bangun bersama. Itulah api imajinasi bangsa yang harus terus dijaga,” tambah Rizki.
Ia mencontohkan hasil penelitiannya di Sebatik, Kalimantan Utara, di mana masyarakat lebih sering menerima informasi dari Johor, Malaysia, ketimbang dari Jakarta.
Menurutnya, kondisi ini menunjukkan pentingnya pengelolaan ruang batas secara adil dan inklusif agar identitas nasional tetap kokoh.
Bangsa ini, menurutnya, tidak hanya hidup dalam dokumen resmi atau peta, melainkan dalam percakapan, cerita, dan ruang komunikasi yang kita bangun bersama. Itulah api imajinasi bangsa yang harus terus dijaga.
Guru Besar sebagai “Mercu Suar” Bangsa
Rektor UMB, Prof. Dr. Ir. Andi Adriansyah, M.Eng., menegaskan bahwa gelar guru besar bukanlah akhir pencapaian, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar.
“Ilmu pengetahuan tidak boleh berhenti di menara gading, tetapi harus memberi manfaat nyata, termasuk menjawab tantangan global seperti perubahan iklim, keberlanjutan sumber daya, dan kesenjangan sosial,” terangnya.
Ia menambahkan, guru besar harus menjadi mercu suar dan penunjuk arah—layaknya GPS—bagi generasi penerus, masyarakat, dan bangsa.
“Cahaya mercu suar itu tidak boleh hanya menyinari dunia akademik. Ilmu pengetahuan harus relevan, aplikatif, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat, termasuk dalam menjawab isu-isu global seperti perubahan iklim, keberlanjutan sumber daya, dan kesenjangan sosial,” ujar Andi.