RDF Jadi Senjata Baru Atasi TPA Ilegal di Jawa Tengah
VIVAJabar – Masalah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) ilegal di Jawa Tengah akhirnya mendapat sorotan serius dari DPRD.
Anggota Komisi D DPRD Jawa Tengah, Andiniya Komala SP dari Fraksi Golkar, menegaskan bahwa penanganan sampah tidak bisa setengah-setengah, melainkan harus berkesinambungan dan melibatkan semua pihak.
Menurutnya, solusi konkret yang bisa dijalankan adalah dengan mengembangkan fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF).
Teknologi ini memungkinkan sampah diolah menjadi bahan bakar alternatif yang dapat digunakan untuk PLTU maupun industri semen, sehingga tidak hanya mengurangi tumpukan sampah, tapi juga menghasilkan energi.
“Kalau sampah dibakar terbuka jelas berbahaya, menimbulkan masalah baru. Dengan RDF, sampah bisa jadi energi listrik. Ini solusi win-win yang sejalan dengan UU No.18/2008 tentang Pengelolaan Sampah,” ujar Andiniya dalam keterangannya, Jumat 22 AGustus 2025.
Sesuai Peta Jalan Transisi Energi
Andiniya menjelaskan, kebijakan ini juga selaras dengan Permen ESDM Nomor 10 Tahun 2025 yang mengatur kewajiban PLN dan industri semen menyerap energi terbarukan, termasuk RDF.
Kadis LHK Jateng dan Anindya
- Istimewa
Selain RDF, ia juga menilai bahwa sampah organik bisa diarahkan ke program biogas skala desa, terutama di daerah pertanian dan peternakan. “Kalau dikembangkan tepat, masyarakat bisa mandiri energi dan menciptakan green economy,” imbuhnya.
Tantangan Utama : Pemilahan Sampah
Meski menjanjikan, tantangan terbesar justru ada pada kebiasaan masyarakat. Saat ini, sebagian besar warga masih mencampur sampah basah, kering, organik, dan anorganik jadi satu.
“Ini yang akan kita petakan. Pemilahan sampah harus lebih efisien, didukung logistik yang tepat. Konsepnya smart spending untuk ekonomi hijau yang berkelanjutan, bukan sekadar proyek jangka pendek,” tegasnya.
Pendidikan Sejak Dini
Tak hanya soal teknis, Andiniya juga menekankan pentingnya pendidikan lingkungan sejak dini. Anak-anak perlu dibiasakan memilah dan membuang sampah dengan benar, sehingga terbentuk budaya peduli lingkungan di masa depan.
“Kalau mental anak-anak sudah terbentuk, kerja kita ke depan akan lebih ringan. Selain itu, akan ada pelatihan khusus bagi pengelola sampah agar bisa memproduksi RDF dengan standar yang benar, didukung penuh oleh Dinas KLH Jateng,” tutupnya.