Aturan Gaji Liga Voli Korea Rugikan Mantan Pemain Red Sparks Megawati Hangestri dan Pemain Asia Lainnya
VIVA Jabar – Aturan gaji yang diterapkan Liga Voli Korea (KOVO) menuai banyak kontroversi, dan salah satu korbannya adalah Megawati Hangestri, mantan pemain Red Sparks.
Megawati terkena dampak dari kebijakan KOVO yang mengatur ketat struktur gaji pemain asing, terutama dari Asia.
Mengutip laporan dari Sports Worldi, KOVO memperkenalkan skema baru untuk menekan beban gaji klub.
Di musim pertama Megawati Hangestri, pemain asing Asia dibayar 120 ribu dolar AS, di musim kedua, gajinya naik menjadi 150 ribu dolar AS atau setara dengan Rp2,39 miliar.
Meski demikian, merekrut pemain Asia seperti Megawati tetap jauh lebih hemat bagi klub dibandingkan mendatangkan pemain asing non-Asia yang gajinya bisa mencapai 250 ribu dolar AS per musim.
Kini, perhatian juga tertuju pada regulasi baru terkait status bebas agen. Dalam aturan ini, pemain yang kontraknya habis dapat diperpanjang oleh klub lama atau direkrut klub lain, dengan gaji yang telah ditetapkan KOVO.
Megawati Hangestri dan Giovanna Milana
Hal ini memunculkan kekhawatiran baru terkait keadilan gaji pemain, terutama bagi mereka yang tampil cemerlang.
Laporan Sports Worldi menyoroti hal atuaran aneh yang dijalankan kovo di v-league
"Sejumlah pemain Asia, Megawati Hangestri (eks Red Sparks), Wipawee Srithong (eks Hyundai E&C Hillstate), dan Anilise Fitzi (Pink Spiders) tampil menonjol dengan kualitas yang melampaui pemain lokal," tulis laporan tersebut.
Namun ironisnya, meski berkontribusi besar, gaji Megawati dan para pemain Asia tetap jauh di bawah standar pasar. Laporan tersebut menambahkan:
"Mereka menerima gaji tinggi meskipun penampilan mereka lebih rendah dibandingkan pemain kuota Asia, ini regulasi yang tidak normal," tulis Sports Worldi.
Kondisi ini mengundang kritik luas terhadap sistem KOVO yang dinilai belum sepenuhnya berpihak pada keadilan dan kesejahteraan para pemain asing, khususnya dari Asia.