Fenomena Baru Super League, Sejumlah Pemain Naturalisasi Balik ke Indonesia
- Instagram @nusantara.ballers
VIVAJabar – Musim Liga 1 2025 menjadi semakin menarik dengan kembalinya sejumlah pemain naturalisasi yang memutuskan kembali merumput di tanah air.
Nama-nama besar seperti Jordi Amat, Rafael Struick, hingga Thom Haye kini resmi memperkuat klub Indonesia, menjadikan kompetisi kasta tertinggi itu semakin berwarna.
Fenomena ini bukanlah hal baru. Sebelumnya, publik sudah familiar dengan sosok Irfan Bachdim yang dianggap sebagai pionir pemain naturalisasi di Liga 1.
Kini, generasi baru naturalisasi kembali hadir, membawa pengalaman bermain di kompetisi luar negeri, sekaligus memberi warna segar bagi sepak bola nasional.
Langkah PSSI untuk melakukan naturalisasi pemain-pemain keturunan Indonesia tak lepas dari strategi memperkuat tim nasional.
Para pemain tersebut umumnya memiliki rekam jejak di kompetisi Eropa, dan kini memilih untuk melanjutkan karier di Indonesia.
Jordi Amat menjadi salah satu nama yang paling mencuri perhatian.
Bek 33 tahun ini sebelumnya sempat menuai kritik ketika memutuskan meninggalkan Eropa dan bergabung dengan Johor Darul Ta’zim (JDT) pada 2022.
Kini, keputusannya berlabuh ke Persija Jakarta dipandang sebagai langkah logis: pulang ke tanah leluhur sekaligus mendekatkan diri dengan basis suporter yang besar.
Berbeda dengan Amat, Rafael Struick datang dari jalur yang lain.
Pemain muda berusia 22 tahun itu sebelumnya memperkuat Brisbane Roar di Liga Australia, namun kesulitan mendapatkan menit bermain.
Demi peluang tampil reguler dan menjaga performanya, Struick memilih menerima pinangan Dewa United untuk musim ini. Tak kalah menarik, Thom Haye juga membuat kejutan.
Gelandang 30 tahun yang sebelumnya masih cukup konsisten bersama Almere City di Eredivisie Belanda akhirnya memutuskan bergabung dengan Persib Bandung.
Kehadiran Haye menambah kekuatan lini tengah Maung Bandung sekaligus mempertegas tren pemain naturalisasi yang “pulang kampung” ke Indonesia.
Dengan semakin banyaknya pemain naturalisasi yang memilih berkarier di Liga 1, publik menilai kompetisi domestik kini bukan lagi sekadar ajang lokal, melainkan ruang pertemuan talenta diaspora dengan kultur sepak bola tanah air.
Fenomena ini diyakini akan meningkatkan kualitas pertandingan sekaligus daya tarik Liga 1 di mata pecinta bola.