Komisaris FC Malang United Desak PSSI Beri Sanksi Persib Bandung Atas Insiden Rasisme
- Istimewa
VIVAJabar – Komisaris Utama FC Malang United, Mayor Arh Dr. Djoko Purwoko, secara tegas mendesak PSSI dan Komisi Disiplin untuk memberikan sanksi pengurangan poin kepada Persib Bandung.
Desakan ini muncul setelah dugaan tindakan rasisme yang dialami oleh dua pemain Malut United, Yakob Sayuri dan Yance Sayuri, pasca pertandingan melawan Persib Bandung.
Djoko Purwoko yang juga seorang Perwira Menengah TNI AD mengungkapkan keprihatinannya atas insiden tersebut. Ia menekankan pentingnya menjaga kondusifitas di Papua dan dampak negatif dari ujaran kebencian.
"Sebagai aparat teritorial yang berdinas di Kodam XVII/Cenderawasih, saya tahu betapa beratnya menjaga kondusifitas di Papua. Ujaran kebencian kepada anak-anak Papua, baik secara langsung maupun di media sosial, menimbulkan luka mendalam," ujar Djoko Purwoko.
Dalam desakannya, Djoko Purwoko meminta PSSI untuk memberikan sanksi pengurangan poin kepada Persib Bandung sebagai bentuk tanggung jawab atas perilaku sebagian pendukungnya.
Ia juga mendorong proses hukum terhadap pelaku ujaran rasis sesuai dengan Undang-Undang ITE dan KUHP tentang diskriminasi rasial.
Selain itu, Djoko juga menekankan pentingnya menguatkan sistem edukasi dan kampanye nasional anti-rasisme dalam dunia sepak bola Indonesia. Langkah ini dianggap penting untuk mencegah terulangnya insiden serupa di masa depan.
Sementara itu, manajemen Malut United menyatakan sikap yang berbeda. Mereka menegaskan tidak pernah mengusulkan atau menginisiasi adanya sanksi pengurangan poin bagi Persib Bandung terkait insiden tersebut.
Manajemen Laskar Kie Raha menekankan bahwa hubungan antara pihaknya dan Persib Bandung tetap terjalin dengan sangat harmonis. Mereka memandang persaingan di lapangan sebagai bagian yang wajar dalam sepak bola.
Meskipun demikian, manajemen Malut United tetap menghormati keputusan Yakob dan Yance Sayuri untuk mengambil langkah hukum. Langkah ini dipandang sebagai hak individu setiap warga negara yang merasa dirugikan.(*)