FOMO Traveling : Bahagia Saat Take Off, Menyesal Saat Landing
VIVAJabar - Di era media sosial, kita dibanjiri foto-foto indah dari berbagai destinasi wisata: Bali, Jepang saat musim sakura, hingga hidden gem di Eropa Timur.
Teman, selebgram, bahkan rekan kerja pun memamerkan perjalanan mereka seolah dunia sedang liburan tanpa kita.
Dan tiba-tiba, kamu membuka aplikasi travel, cari tiket, booking hotel semuanya dalam satu malam. Selamat datang di dunia liburan impulsif karena FOMO.
Tapi apakah kebahagiaan dari liburan mendadak ini benar-benar bertahan lama?.
Apa Itu FOMO dalam Konteks Traveling?
FOMO (Fear of Missing Out) adalah ketakutan seseorang merasa tertinggal dari pengalaman yang sedang dialami orang lain. Dalam konteks traveling, FOMO muncul saat kamu merasa semua orang jalan-jalan kecuali kamu, kamu merasa ‘gagal menikmati hidup’ jika tidak ikut - ikutan pergi.
Bahkan Feed media sosial kamu terlalu sepi dari pemandangan luar negeri. Efeknya? Kamu mulai berlibur bukan karena ingin, tapi karena takut tertinggal.
Liburan Impulsif: Gairah Sesaat, Repotnya Belakangan
Traveling secara mendadak dan spontan memang terdengar menyenangkan. Tapi jika dorongan utamanya FOMO, bisa jadi kamu mengalami beberapa dampak berikut.
Ilustrasi Travelling
1. Keuangan Terkuras Tanpa Rencana
Tiket last minute dan hotel dadakan biasanya mahal. Tanpa perencanaan, kamu bisa menghabiskan uang jauh di atas bujet hanya demi “ikut-ikutan”.
2. Destinasi Tak Sesuai Harapan
Karena buru-buru, kamu mungkin tidak riset soal tempat, cuaca, atau kondisi setempat. Hasilnya? Liburan terasa biasa saja atau bahkan mengecewakan.
3. Stres dan Lelah Fisik
Alih-alih relaksasi, kamu malah kejar waktu, kejar konten, dan kejar itinerary padat. Mental jadi lelah, badan pun capek tak karuan.
4. Ketergantungan Validasi Sosial
Liburan jadi ajang ‘upload story’ bukan menikmati momen. Kamu bahagia bukan karena perjalanan itu sendiri, tapi karena mendapatkan likes dan views.
FOMO menciptakan kepuasan semu. Setelah liburan selesai kamu merasa tidak benar - benar terhubung dengan pengalaman yang dijalani, ada rasa ‘kok cuma begini doang?’.
Bahkan, ketika melihat teman lain liburan lagi. FOMO pun kembali muncul. Siklus ini bisa membuat kamu terjebak dalam pola konsumsi perjalanan tanpa makna.