FOMO Traveling : Bahagia Saat Take Off, Menyesal Saat Landing

Ilustrasi Travelling
Sumber :
  • Pinterest

 

img_title Jarang Terekspos, 4 Destinasi Estetik di Jawa Barat yang Bikin Liburan Makin Berkesan

VIVAJabar - Di era media sosial, kita dibanjiri foto-foto indah dari berbagai destinasi wisata: Bali, Jepang saat musim sakura, hingga hidden gem di Eropa Timur. 

Teman, selebgram, bahkan rekan kerja pun memamerkan perjalanan mereka seolah dunia sedang liburan tanpa kita. 

img_title Mau Healing ke Bandung, Ini 11 Desa Wisata yang Wajib Masuk List

Dan tiba-tiba, kamu membuka aplikasi travel, cari tiket, booking hotel semuanya dalam satu malam. Selamat datang di dunia liburan impulsif karena FOMO.

Tapi apakah kebahagiaan dari liburan mendadak ini benar-benar bertahan lama?.

img_title Gokil, Ini 5 Spot Wisata Malam di Bandung yang Bikin Kamu Serasa di Luar Negeri

Apa Itu FOMO dalam Konteks Traveling?

FOMO (Fear of Missing Out) adalah ketakutan seseorang merasa tertinggal dari pengalaman yang sedang dialami orang lain. Dalam konteks traveling, FOMO muncul saat kamu merasa semua orang jalan-jalan kecuali kamu, kamu merasa ‘gagal menikmati hidup’ jika tidak ikut - ikutan pergi.

Bahkan Feed media sosial kamu terlalu sepi dari pemandangan luar negeri. Efeknya? Kamu mulai berlibur bukan karena ingin, tapi karena takut tertinggal.

Liburan Impulsif: Gairah Sesaat, Repotnya Belakangan

Traveling secara mendadak dan spontan memang terdengar menyenangkan. Tapi jika dorongan utamanya FOMO, bisa jadi kamu mengalami beberapa dampak berikut.

Ilustrasi Travelling

Photo :
  • Pinterest

1. Keuangan Terkuras Tanpa Rencana

Tiket last minute dan hotel dadakan biasanya mahal. Tanpa perencanaan, kamu bisa menghabiskan uang jauh di atas bujet hanya demi “ikut-ikutan”.

2. Destinasi Tak Sesuai Harapan

Karena buru-buru, kamu mungkin tidak riset soal tempat, cuaca, atau kondisi setempat. Hasilnya? Liburan terasa biasa saja atau bahkan mengecewakan.

3. Stres dan Lelah Fisik

Alih-alih relaksasi, kamu malah kejar waktu, kejar konten, dan kejar itinerary padat. Mental jadi lelah, badan pun capek tak karuan.

4. Ketergantungan Validasi Sosial

Liburan jadi ajang ‘upload story’ bukan menikmati momen. Kamu bahagia bukan karena perjalanan itu sendiri, tapi karena mendapatkan likes dan views.

FOMO menciptakan kepuasan semu. Setelah liburan selesai kamu merasa tidak benar - benar terhubung dengan pengalaman yang dijalani, ada rasa ‘kok cuma begini doang?’.

Bahkan, ketika melihat teman lain liburan lagi. FOMO pun kembali muncul. Siklus ini bisa membuat kamu terjebak dalam pola konsumsi perjalanan tanpa makna.

Halaman Selanjutnya
img_title