Netralitas Presiden di Meja Makan

Presiden Jokowi Bersama Beberapa Pimpinan Parpol.
Sumber :
  • Viva.co.id

Makan nasi atau lontong, banyak dan tidaknya dan menu yang disajikan. Disini terlihat jelas, bahwa kekhawatiran anies atas netralitas jokowi pada pemilu 2024.  Hal itu bisa difahami, karena ada gibran yang merupakan anak sulungnya menjadi calon wakil presiden. 

Ilustrasi Pemilu, Logo Peserta Pemilu (Parpol)

Photo :
  • Screenshot berita VivaNews

Ketiga, Meme Photo Yang Beredar di Tengah Publik

Salah satu photo yang tersebar di publik adalah posisi masing-masing calon presiden ketika bersalaman. Ada tiga photo dijadikan satu, dengan menggambarkan hanya Anies yang bersalaman dengan jokowi sambil menatap wajah jokowi. 

Saya tidak melihat kejadian utuh gambar bergerak ketika mereka bersalaman. Namun bagi saya, sangat mungkin photo tersebut sengaja diambil ketika prabowo dan ganjar sedang tidak menatap wajah jokowi, sedangkan photo anies diambil ketika sedang menatap wajah jokowi. 

Nalar sederhana saya, tidak mungkin ada orang salaman tidak saling menatap wajah. Kecuali santri terhadap kyainya. 

Sehingga photo yang tersebar hanya untuk memberikan kesan bahwa, hanya calon presiden anies yang tidak di bawah bayang-bayang jokowi. 

Dari rentetan kegiatan makan siang politik tersebut pertanyaanya, apakah dengan kegiatan tersebut mampu menyampaikan pesan kepada publik, bahwa jokowi akan netral pada pemilu 2024 mendatang?

Saya rasa tidak, netralitas tersebut hanya terlihat di meja makan. Karena opini yang berkembang di tengah masyarakat terkait ketidaknetralan jokowi pada pemilu 2024 sudah terlihat sejak lama melalui berbagai skenario politik dan hukum. 

Dengan Anwar Usman ketua MK memutus gugatan syarat usia minimal dan maksimal saja sudah terlihat ketidaknetralannya. 

Ditambah lagi dengan disebut-sebut adanya erdorse bagi PAN dan golkar untuk merapat ke prabowo. 

Dan klimaksnya dengan dicalonkannya gibran menjadi calon wakil presiden prabowo yang diusung oleh partai golkar yang disebut-sebut menjawab berbagai spekulasi publik atas skenario dinasty politik kekuasaan yang sedang dibangun oleh jokowi. Sehingga opini dan stigma publik tidak mungkin berubah hanya dipertontonkan di meja makan.