Dedi Mulyadi Tercengang dengan Kondisi di Pasar Caringin

Dedi Mulyadi
Sumber :

VIVAJabarDedi Mulyadi mulai menarik banyak sorotan karena kebijakan-kebijakannya yang baru dan dinilai tegas pada masyarakat Jawa Barat.

img_title Diserang Isu Tunjangan Fantastis, Dedi Mulyadi Justru Lakukan Hal Tak Terduga

Selain itu, aktif di dunia media sosial membuat kebijakan Dedi Mulyadi begitu transparan dan bisa diketahui oleh rakyat Jawa Barat. 

Pendekatan Dedi Mulyadi dinilai kekinian sehingga tidak hanya orang tua saja yang mengerti akan kebojakan Dedi Mulyadi tatepi kaum muda dari remaja hingga duduk dibangku kuliahpun mulai melek.

img_title Dedi Mulyadi Geram, Sampah Pasar Caringin Tak Kunjung Terselesaikan

 

Dedi Mulyadi

Photo :
  • -

img_title Lagi Viral, 15 Tempat Makan Kekinian di Dago Bandung

Baru-baru ini Gubernur Jawa Barat tengah disorot setelah dirinya melakukan inspeksi mendadak dilakukan. Dalam penelusurannya Dedi Mulyadi menemukan kondisi sampah yang menggunung di area pasar. 

Selain itu, keadaan yang memprihatinkan dan becek menjadi poin lebih di mata Dedi Mulyadi. Pasar yang berlokasi di Pasar Caringin, Ciparay, Kota Bandung, Jawa Barat menjadi sorotan dedi Mulyadi. 

"Ini saya lagi di pasar, nih. Ini pasar apa? Caringin. Pasar kayak sawah, ya Allah. Ini orang-orang bisa hidup? (dengan kondisi pasar banyak sampah)," ujar Dedi Mulyadi.

Menurut Kepala BP3C, Asep Syarief Hidayat mengatakan bahwa penebabnya berasal dari kebakaran TPA Sarimukti dua  tahun lalu. 

Pasalnya, jatah pembuangan sampah di TPA Sarimukti dibataso sehingga menyebabkan penumpukan sampah di Pasar Caringin. 

"Sebelum kebakaran, kita sehari sembilan ritase pengangkutan sampah ke Sarimukti, sekarang setiap hari cuma tiga ritase, sisanya numpuk di pasar." ungkap Asep Syarief.

"Sementara produksi sampah setiap hari rata-rata 40 ton termasuk sampah warga sekitar. Kalau satu ritase itu kisaran 7 ton, jadi setiap hari cuma 21 ton yang terbuang," tambahnya.

Asep juga menyoroti kenakaln dari pedagan buah dan sayuranyang banyak membuang komoditi buah atau sayuranyang busuk di dalam pasar tanpa dipilah.

"Memang benar-benar (membuang sampah) di depan toko atau kiosnya. Gebras-gebrus saja tanpa dipilah dan dipisah." ujar Asep. 

"Pedagang itu banyak yang beli impor dari Jakarta. Dari satu kontainer isinya 500 peti, setelah dipilihin yang bisa dijual cuma 300 peti, sisanya dibuang begitu saja," pungkasnya. **