Kronologi Perseteruan Dedi Mulyadi dan Hercules Ketua Ormas GRIB Jaya

Dedi Mulyadi
Sumber :

VIVA JabarPerseteruan antara Ketua Umum Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB Jaya), H. Hercules Rosario Marshal, dan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mencuat dalam beberapa bulan terakhir, memunculkan ketegangan antara ormas dan pemerintah daerah

img_title Jarang Terekspos, 4 Destinasi Estetik di Jawa Barat yang Bikin Liburan Makin Berkesan

Pernyataan Gubernur Dedi Mulyadi yang Memicu Reaksi

Pada April 2025, Gubernur Dedi Mulyadi mengeluarkan pernyataan yang dianggap menggeneralisasi organisasi masyarakat (ormas) sebagai kelompok preman. 

img_title Diserang Isu Tunjangan Fantastis, Dedi Mulyadi Justru Lakukan Hal Tak Terduga

Pernyataan ini memicu reaksi keras dari GRIB Jaya, khususnya dari Ketua Harian DPD GRIB Jaya Jawa Barat, Ferry Jambul Merah (JM), yang menegaskan bahwa ormas tidak bisa disamakan dengan kelompok preman dan meminta Gubernur membuka ruang dialog bersama.

Ferry Jambul Merah juga mengkritik Dedi Mulyadi yang dianggap menggeneralisasi ormas sebagai kelompok preman. Ia menyebut bahwa ormas adalah bagian dari masyarakat yang ingin turut membangun daerah dan meminta Gubernur untuk membuka ruang dialog dan kolaborasi.

img_title Dedi Mulyadi Geram, Sampah Pasar Caringin Tak Kunjung Terselesaikan

Profil Hercules Rosario Marshal 

Hercules Rosario Marshal, yang lahir dengan nama asli Rosario de Marshall pada 27 Mei 1968 di Ainaro, Timor Timur (sekarang Timor Leste), dikenal sebagai salah satu mantan preman paling legendaris di Indonesia. 

Sejak usia 12 tahun, ia telah mengalami berbagai peristiwa tragis, termasuk kehilangan orang tuanya akibat serangan militer pada tahun 1978. Setelah kejadian tersebut, Hercules bergabung dengan TNI sebagai Tenaga Bantuan Operasi (TBO) dalam Operasi Seroja di Timor Timur. 

Selama operasi ini, ia mengalami kecelakaan helikopter yang mengakibatkan kehilangan tangan kanan dan salah satu bola matanya.

Setelah menjalani perawatan di Jakarta, Hercules memulai kehidupan baru di Tanah Abang pada akhir 1980-an. Di kawasan ini, ia membentuk kelompok preman yang dikenal dengan kekuasaannya di dunia bawah tanah Jakarta pada 1990-an. 

Kelompoknya terlibat dalam berbagai aktivitas ilegal, termasuk pemerasan dan penguasaan wilayah pasar. Hercules dikenal sebagai sosok yang tidak takut mati, bahkan pernah dibacok 16 kali dan ditembak di mata, namun tetap selamat.

Pada tahun 2006, Hercules memutuskan untuk bertaubat dan meninggalkan dunia premanisme. Ia memeluk agama Islam dan mulai terlibat dalam kegiatan sosial. 

Halaman Selanjutnya
img_title