Di Balik Laba Stagnan, Telkom Perkuat SDM dan Lompatan Digital
VIVA Jabar – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk menghadapi dinamika baru setelah sorotan media atas stagnasi laba dan isu efisiensi SDM. Dalam merespons hal tersebut, Telkom melalui berbagai program transformasi menegaskan bahwa masa depan perusahaan terletak pada penguatan ekosistem digital dan pemberdayaan sumber daya manusia (SDM) sebagai dua pilar utama yang tak terpisahkan.
Sepanjang 2024, Telkom mencatat laba bersih sebesar Rp 19,5 triliun, memang melandai dibanding tahun sebelumnya, namun tetap stabil dalam konteks ekspansi digital dan investasi infrastruktur jangka panjang.
Telkom menjelaskan bahwa fluktuasi laba tidak mencerminkan penurunan performa, melainkan bagian dari proses restrukturisasi dan transformasi fundamental menuju bisnis digital yang berkelanjutan.
Direktur Gagas Nusantara, Romadhon Jasn menilai bahwa respons Telkom patut diapresiasi karena menempatkan isu SDM dan transformasi digital dalam kerangka strategis jangka panjang.
“Ini bukan soal naik-turunnya angka, tetapi bagaimana Telkom menjaga relevansi dan daya saing di tengah disrupsi. SDM bukan dikorbankan, justru diberdayakan dengan pendekatan teknologi dan inovasi,” ujarnya di Jakarta, Rabu (18/6/2025)
Sejak 2022, Telkom telah meluncurkan inisiatif Five Bold Moves, termasuk pemisahan bisnis IndiHome ke Telkomsel, konsolidasi layanan digital B2B melalui Leap-Telkom Digital, serta investasi strategis ke data center dan cloud.
Langkah ini terbukti efektif mendorong pertumbuhan digital revenue Telkom hingga mencapai 40 persen dari total pendapatan konsolidasi pada akhir 2024.
Romadhon menekankan, publik perlu melihat bahwa Telkom bukan sekadar operator telekomunikasi, melainkan agen transformasi digital nasional.
“Kalau hanya kejar laba jangka pendek, Telkom tidak akan tahan menghadapi gelombang digital global. Tapi mereka memilih bangun fondasi dari infrastruktur digital, cloud, hingga ekosistem startup nasional,” tegasnya.
Isu efisiensi SDM yang disorot Bloomberg Technoz juga mendapat penjelasan terbuka dari pihak Telkom. Transformasi dilakukan dengan mempertimbangkan prinsip keadilan, pelatihan ulang (reskilling), dan penempatan karyawan di unit strategis yang tumbuh.
Program semacam Digital Talent Acceleration menunjukkan komitmen bahwa SDM Telkom tidak ditinggalkan, tapi diikutsertakan dalam perubahan.
Romadhon menyatakan bahwa tantangan seperti stagnasi laba adalah momentum untuk introspeksi strategis, bukan untuk menyerah.