Dwi Hartono Diduga Otak di Balik Kasus Ilham Pradipta
- Instagram @sangatta.pride
VIVAJabar – Nama pengusaha sekaligus motivator, Dwi Hartono, mendadak menjadi sorotan publik.
Belakangan, ia disebut mengalami kebangkrutan selama tiga tahun terakhir, bahkan rumah tangganya dikabarkan ikut berantakan.
Sang istri diduga meninggalkan rumah bersama anak-anak di tengah kesulitan ekonomi.
Kehebohan makin bertambah ketika Dwi Hartono dikaitkan dengan kasus penculikan dan pembunuhan Kepala Cabang Bank BUMN, Mohamad Ilham Pradipta.
Motif awal diduga berakar dari sakit hati karena pinjaman fiktif senilai Rp13 miliar yang diajukan ke korban ditolak.
Seorang pengguna TikTok yang mengaku mantan karyawan Hartono menceritakan kondisi ekonomi keluarga Hartono yang memang memburuk dalam tiga tahun terakhir.
"Kemungkinan iya, dia sama istrinya jadi dalang. 3 tahun terakhir emang sudah bangkrut," ujar pemilik akun.
Yang mengejutkan, sang istri disebut sudah meninggalkan rumah lebih dulu bersama anak-anaknya.
"Istrinya udah kabur duluan," tambahnya.
"Iya kabur duluan jam 12 malem sama anak-anaknya pas dicek di CCTV," jelasnya.
Meski demikian, kebenaran informasi ini belum bisa dipastikan karena pihak berwenang belum memberikan konfirmasi resmi.
Mohamad Ilham Pradipta menjabat sebagai Kepala Cabang Bank BUMN di Cempaka Putih, Jakarta Pusat.
Dia diculik oleh empat pelaku berinisial AT, RS, RAH, RW di parkiran sebuah swalayan di Pasar Rebo, Jakarta Timur pada Rabu (20/8/2025).
Jasad korban ditemukan di Desa Nagasari, Serang Baru, Bekasi pada Kamis (21/8/2025) dengan tangan dan kaki terikat serta mata dililit lakban.
Korban kemudian dimakamkan di TPU Situ Gede, Bogor Barat, Kota Bogor.
Hasil penyelidikan menunjukkan Dwi Hartono diduga menjadi otak di balik penculikan dan pembunuhan Ilham Pradipta.
Motifnya terkait upaya pinjaman fiktif Rp13 miliar yang diajukan Dwi Hartono dan ditolak oleh korban.
Dwi Hartono disebut membayar jasa debt collector untuk menculik Ilham Pradipta.
Meski demikian, Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Ade Ary Syam Indradi, menyatakan polisi belum bisa memastikan motif pasti pembunuhan maupun keterkaitannya dengan pinjaman tersebut.
Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Hery Gunardi, menyampaikan keprihatinannya dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI pada Kamis (21/8/2025):