Timnas Voli Putri Indonesia Terima "Hadiah" Pahit Usai Terpuruk di SEA V.League
- Instagram @volisip
VIVAJabar – Timnas Voli Putri Indonesia menutup leg pertama SEA V.League 2025 di Thailand sebagai juru kunci, tanpa satu pun kemenangan usai bertanding antara 1–3 Agustus.
Malaysia mereka takluk dari Vietnam, Thailand, dan Filipina, sehingga gagal raih medali perunggu di ajang tersebut.
Vietnam tampil dominan sejak hari pertama, menghancurkan Indonesia 3–0 di laga pembuka. Skor telak (25‑11, 25‑11, 25‑22) membuat Harimau Putri langsung menguasai klasemen awal.
Sementara Indonesia tak menunjukkan perlawanan berarti di laga-laga selanjutnya.
Megawati Hangestri, yang baru saja ditunjuk sebagai kapten Timnas Putri, memimpin skuad saat menghadapi tekanan berat di lapangan.
Meski dianggap sebagai pemain kunci dan diberi kepercayaan besar oleh pelatih Octavian, performa Indonesia tetap rapuh di turnamen ini.
Tim Indonesia kembali terpuruk setelah kalah dari Filipina dengan skor 1–3 di pertandingan penutup. Alhasil, mereka gagal meraih satu pun kemenangan dan finis di dasar klasemen turnamen leg pertama.
Kontras dengan nasib mereka, tim putra Indonesia yang berlaga di leg pertama juga pulang tanpa gelar juara, namun tetap diberi hadiah uang.
Tim juara putra membawa pulang USD 13.000, runner-up USD 12.000, dan Indonesia menyumbang posisi ketiga leg pertama tanpa gelar pribadi.
Dalam kasus putri, tak ada bonus atau penghargaan untuk pemain. Bahkan gelar individu seperti MVP, best spiker, atau best server tak ada satupun yang mampir ke skuad Megawati dkk.
Hal ini menambah penderitaan tim yang diasuh Octavian itu.
SEA V.League adalah ajang penting bagi timnas putri untuk mengasah kekompakan menuju kejuaraan dunia dan SEA Games.
Namun hasil leg pertama ini justru menjadi sinyal bahwa evaluasi menyeluruh sangat dibutuhkan, baik dari segi permainan, latihan, maupun mental teknis tim.
Dengan leg kedua SEA V.League dijadwalkan berlangsung di Vietnam, timnas putri Indonesia harus memperbaiki semua lini.
Tekanan semakin nyata—sekarang bukan hanya mengejar poin, melainkan membuktikan bahwa mereka lebih dari sekadar pelengkap turnamen.