Harta Karun Terpendam di Tanah Kabupaten Kuningan, Berikut Ulasan Museum Taman Purbakala Cipari
- Pinterest @Erika taylor
VIVAJabar – Museum Situs Taman Purbakala Cipari, yang terletak di Kelurahan Cipari, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, merupakan salah satu situs bersejarah penting yang menyimpan jejak kehidupan manusia pada masa prasejarah.
Ilustrasi Museum Taman Purbakala Cipari
- Pinterest @Teoro Evolusi
Berada di kaki Gunung Ciremai, situs ini menggambarkan peradaban yang pernah ada di daerah tersebut pada zaman Neolitikum hingga Megalitikum.
Dilansir dari kanala YouTube @TVOneNews pada Minggu, 27 Maret 2022, berbagai peninggalan bersejarah ditemukan di tempat ini, seperti peti kubur batu, menhir, dolmen, gelang batu, kapak perunggu, serta gerabah yang digunakan oleh masyarakat purba.
Penemuan situs ini bermula pada tahun 1971, ketika seorang petani setempat, Pak Wijaya Sriwijaya, menemukan batuan besar yang memiliki kesamaan dengan benda-benda yang pernah dipamerkan dalam pameran kepurbakalaan di Paseban Cibubur.
Temuan tersebut kemudian dilaporkan kepada tim survei sejarah dan purbakala Kuningan, yang akhirnya melakukan penelitian serta penggalian awal pada tahun 1972.
Penelitian lebih lanjut dilakukan hingga tahun 1975, di bawah pimpinan arkeolog dari Lembaga Purbakala Jakarta dengan bantuan mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM).
Dari penggalian tersebut, ditemukan lebih banyak peninggalan purbakala, termasuk peti kubur batu kedua, yang semakin menguatkan dugaan bahwa kawasan ini pernah menjadi tempat bermukimnya manusia pada masa prasejarah.
Menurut hasil penelitian, masyarakat prasejarah di Situs Cipari diduga telah mengenal sistem bercocok tanam serta memahami penggunaan logam perunggu dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan analisis stratigrafi, situs ini pernah mengalami dua masa peradaban, yaitu peralihan dari akhir zaman Neolitikum ke awal zaman logam, yang diperkirakan berlangsung sekitar 1.000 hingga 500 tahun sebelum Masehi atau sekitar 3.000 tahun yang lalu.
Selain sebagai tempat tinggal, situs ini juga dipercaya sebagai pusat ritual dan pemujaan terhadap roh nenek moyang, sebagaimana terlihat dari adanya altar batu atau punden berundak yang digunakan untuk upacara keagamaan.
Kepercayaan animisme dan dinamisme tampaknya telah dianut oleh masyarakat purba yang menetap di kawasan ini.
Di luar bangunan museum, berbagai struktur batu yang berfungsi untuk ritual dan musyawarah juga masih dapat ditemukan. Salah satunya adalah batu tembilang, yaitu susunan batu melingkar yang diperkirakan digunakan sebagai tempat berkumpul dan bermusyawarah.