Bandung Darurat Massa Demo DPRD Jabar Kian Beringas, Api Membesar
VIVAJabar – Unjuk rasa yang menunjukkan solidaritas atas wafatnya Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online yang meninggal setelah terlindas kendaraan aparat di Jakarta, berakhir dengan kekacauan ketika para demonstran berkumpul di depan DPRD Jabar, Bandung.
Peserta aksi terdiri dari pengemudi ojek, pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum. Mereka menyuarakan tuntutan akan keadilan dan bahkan mengajak untuk membubarkan DPRD.
Ketegangan langsung meningkat saat petugas kepolisian melepaskan gas air mata, diikuti dengan aksi pelemparan batu dan bom molotov ke arah aparat dan bangunan DPRD Jabar.
Ketidakpuasan para demonstran meningkat hingga mereka membakar berbagai properti di lokasi aksi tersebut.
Rumah dinas MPR RI, yang berada tepat di depan kantor DPRD Jabar, terbakar dengan hebat sampai ke lantai dua, dan api belum sepenuhnya padam hingga pukul 18. 05 WIB.
Videotron dan bangunan milik MPR RI juga dilaporkan ikut dibakar, sementara para peserta aksi tetap bertahan dan jumlah mereka terus bertambah.
Banyak peserta unjuk rasa mengalami masalah pernapasan dan mengalami luka akibat gas air mata.
Sebanyak 201 orang dilarikan ke Aula Universitas Islam Bandung (Unisba) untuk mendapatkan penanganan darurat, termasuk triase dilihat dari tingkat kegawatan.
Meski polisi mencoba menggunakan gas air mata sekitar pukul 18. 30 WIB, massa tetap tidak mundur dan terus bertambah. Upaya untuk membubarkan kerumunan belum sepenuhnya berhasil.
Pada hari Jumat, 29 Agustus 2025, aksi solidaritas atas kematian Affan Kurniawan berubah menjadi kerusuhan besar di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Bandung.
Para demonstran, yang terdiri dari pengemudi ojek, pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum, terus berdatangan sejak siang hari.
Aksi demonstrasi menjadi lebih keras ketika para peserta mulai melempar bom molotov, batu, dan bahkan membakar fasilitas umum seperti videotron serta bangunan rumah dinas MPR RI.
Api sempat berkobar mencapai lantai dua rumah dinas MPR dan belum sepenuhnya padam sampai pukul 18. 05 WIB.
Laporan menyebutkan bahwa semakin banyak korban yang terpapar gas air mata yang dirawat di Aula Unisba, hasil kerjasama medis antara kampus dengan STAI Sabili dan Unpas.