Kian Marak Sunscreen Ber-SPF Abal-Abal, BPOM Bertindak Sentil Para Influencer

Kepala BPOM RI, Penny K Lukito
Sumber :
  • screenshoot by Viva

VIVA Jabar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengungkapkan kekhawatiran mereka terhadap peningkatan promosi kosmetik yang tidak mematuhi peraturan di media sosial. Situasi ini terkait dengan munculnya produk sunscreen yang meragukan, di mana klaim SPF-nya ternyata tidak akurat.

img_title Terungkap! 5 Fakta Penyebab Azizah Salsha Jadi Terkenal, No 3 Bikin Geleng Kepala

Maraknya produk sunscreen yang tidak berkualitas ini disebabkan oleh banyaknya produk di pasaran yang mengklaim memiliki nilai SPF 50 atau lebih tinggi, padahal hasil pengujian di laboratorium menunjukkan nilai SPF yang jauh lebih rendah, yaitu hanya SPF 2.

BPOM menyimpulkan bahwa produk sunscreen yang memanipulasi nilai SPF tersebut sebenarnya merupakan klaim yang tidak dapat dipercaya.

img_title Kulit Berminyak Bikin Gak Pede, Coba 7 Rahasia Ampuh Ini Dijamin Fresh Seharian

Ilustrasi sunscreen

Photo :
  • Pixabay

"Artinya dia klaim SPF-nya 50 ternyata dari aspek formula kandungannya tidak memenuhi klaim tersebut, itu ada datanya. Pada saat setelah produk beredar, kita juga melihat klaim tersebut penandaan misalnya SPF-nya 30 kemudian kita melakukan auditnya ternyata tidak sesuai kita kita minta disesuaikan," ujar Plt Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik, Reri Indriani, di Jakarta, baru-baru ini.

img_title Gak Pahit, Gak Bau! Ini Produk Herbal yang Disukai Anak Muda Zaman Sekarang

BPOM menggarisbawahi hal itu bahwa produk tersebut bisa diketahui masyarakat awam dari peran promosi kosmetik di media sosial. Reri mengatakan bahwa promosi kosmetik di media sosial yang tidak memenuhi aturan mencapai 23 persen sehingga cukup memprihatinkan. Hal itu pun dinilai berisiko membahayakan kesehatan masyarakat yang 'tertipu' dengan promosi kosmetik tanpa memahami kandungan di dalamnya.

"(Dari 23 persennya itu) 77 persennya berasal dari media online dan media sosial (seperti) TikTok, Youtube, atau e-commerce," tambahnya.

Ilustrasi skincare

Photo :
  • Screenshot berita VivaNews

Reri menegaskan bahwa promosi kosmetik yang dilakukan influencer di media sosial ini, harus benar-benar memahami kandungan medis dari produk yang dipromosikannya. Aturan mempromosikan kosmetik juga harus diterapkan sehingga tak asal memberi ulasan untuk sekadar viral.

"Harus patuh pada aturan, jangan pansos untuk mendapatkan likes sebanyak-banyaknya, tapi mendiskreditkan penyampaian informasi yang tidak benar kepada masyarakat," tegas Reri.

Lebih dalam, Reri menjelaskan bahwa BPOM sudah bekerjasama dengan berbagai pihak agar promosi produk kosmetik bisa sesuai aturan sehingga memberi manfaat pada masyarakat. Dengan begitu, produk lokal yang dipromosikan oleh influencer dan beauty enthusiast di media sosial juga tak akan membahayakan penggunanya.

Halaman Selanjutnya
img_title