Jarang Diketahui, Tutut Jadi Camilan Sunda Kaya Nutrisi dan Bikin Ketagihan
VIVAJabar – Dalam dunia kuliner Sunda, istilah tutut mungkin kurang familiar akhir-akhir ini. Tutut yang juga dikenal sebagai keong sawah dahulu merupakan camilan yang gampang ditemukan, terutama di pedesaan.
Namun baru-baru ini, keberadaannya semakin berkurang akibat berkurangnya habitat dan generasi muda kurang mengenalinya.
Dulu, tutut dimasak dengan cara sederhana hanya dengan direbus bersama bumbu hingga kuahnya memiliki rasa pedas yang gurih, dan banyak dijajakan di pasar tradisional maupun di tepi jalan dalam kemasan plastik kecil.
Kini, keberadaannya semakin jarang, hanya dapat ditemui di beberapa tempat tertentu saja.
Lebih dari sekadar rasa, tutut memiliki kandungan gizi yang tinggi. Ia kaya akan protein (12%), kalsium, serta vitamin A, E, dan folat.
Nilai gizinya menjadikannya pilihan protein hewani yang sehat dan terjangkau lebih murah daripada daging ayam, sapi, atau kambing.
Dari segi penyajian, tutut memiliki cara tradisional yang unik. Di berbagai daerah, tutut dimakan dengan cara menarik dagingnya menggunakan mulut atau disodok menggunakan tusuk gigi atau jarum, memberikan pengalaman tersendiri bagi mereka yang menikmatinya.
Salah satu variasi tutut adalah Sayur Picung Tutut dari Karawang Selatan suatu olahan tradisional yang sudah diwariskan dari generasi ke generasi tetapi kini hampir punah.
Dengan kuah yang berwarna hitam pekat, rasanya gurih dan sedikit asam, biasanya dinikmati dengan nasi putih dalam keadaan hangat.
Mengingat betapa langkanya tutut saat ini, sangat penting untuk melestarikan warisan kuliner ini agar tidak hilang seiring berjalannya waktu.
Generasi muda perlu diperkenalkan kembali kepada cita rasa tradisional ini agar budaya lokal tetap ada dan dikenang.*