Panji Gumilang dan Deretan Para Tokoh Pendukungnya
- Screenshot berita VivaNews
VIVA Jabar - Syekh Panji Gumilang sang tokoh kontroversial, perkataanya selalu memantik amarah dari sebagian besar masyarakat. Mulai dari salam Yahudi hingga tuduhan antek Negara Islam Indonesia (NII).
Akibat dari beberapa pernyataan hingga tudingan terhdap dirinya tersebut, Panji Gumilang terpaksa harus wara-wiri ke markas kepolisian untuk menjalani beberapa pemeriksaan terhadap dirinya.
Sebagian pihak mendesak polisi untuk menangkap Panji Gumilang dan membubarkan Pesantren Al Zaytun. Adapun, Sebagian lagi mendukung dan beranggapan apa yang dituduhkan kepada Panji tidak benar.
Dukungan tersebut datang dari sejumlah tokoh yang namanya sudah cukup dikenal publik, mulai dari tokoh politik, pengusaha hingga pengacara top. Siapa saja mereka?
Berikut tokoh yang terang-terangan membela Al Zaytun dan mendukung Panji Gumilang:
Moniq merupakan aktivis pro Israel yang menyuarakan dukungannya kepada Panji Gumilang. Moniq menilai Panji sangat gigih mengajarkan anak didiknya untuk memiliki sikap toleransi terhadap Yahudi.
Dia juga mengapresiasi sikap Panji yang terang-terangan meminta anak didiknya menyanyikan lagu Hevenu Shalom Aleichem. Menurut Moniq, sikap Panji Gumilang tersebut merupakan satu langkah baik untuk mengajarkan nilai toleransi kepada generasi penerus bangsa.
2. Ali Mochtar Ngabalin
Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden Ali Mochtar Ngabalin juga turut menyuarakan dukungannya untuk Panji Gumilang. Bahkan, dia tak segan menyemprot pihak-pihak yang menyerang Panji.Ngabalin menekankan bahwa Panji Gumilang merupakan kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang pernah mengenyam pendidikan di Pesantren Gontor.
Selain itu, kata dia, Panji juga merupakan anak dari kader Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) sehingga mustahil melakukan penyimpangan yang melawan syariat Islam.
3. Habib Kribo
Zein Assegaf atau yang akrab disapa Habib Kribo merupakan sosok dari kalangan ahlulbait yang terang-terangan membela Panji Gumilang. Dia tidak mempermasalahkan perbedaan cara beribadah yang dilakukan di Al Zaytun. Sebab, kata dia, sejak dahulu Rasulullah SAW tidak pernah memaksa siapapun dalam membangun keyakinan dan cara ibadahnya.
"Kalau perbedaan furu'iyah (cara beribadah) dalam pemahaman ibadah, ritual, itu biarin aja kita tidak bisa memaksa,” kata Zein.